
Daftar isi
Konsultan studi kelayakan pembangunan dan renovasi Rumah Sakit Pertamina Cirebon. Julizar Consulting dipercaya untuk membuat dan menyusun kajian kelayakan rumah sakit pertamina cirebon yang beralamat di Jl. Patra Raya Klayan Cirebon No.1, Klayan, Kec. Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat 45151.
Rumah Sakit Pertamina Cirebon
Didirikan pada tahun 1973, Rumah Sakit Pertamina Cirebon pada awalnya merupakan bagian dari Kesehatan Pertamina Unit EP III Cirebon yang mengelola fasilitas kesehatan Karyawan Pertamina Unit EP III beserta keluarganya. Di samping itu RS Pertamina Cirebon juga memberikan layanan pada karyawan/Keluarga Pertamina lain yang ada di wilayah Cirebon seperti UPPDN III, LPG dan UP VI Balongan, PT Exor serta Pensiunan Pertamina dan keluarganya. Berlokasi di Jalan Patra Raya Klayan Cirebon yang terletak di jalur Pantura, RSPK telah menjadi salah satu pilihan warga Cirebon dalam memenuhi kebutuhannya akan layanan kesehatan yang optimal dan terjangkau. Saat ini RSPK telah mengembangkan fasilitas ruang rawat inapnya dengan membangun paviliun, sehingga kapasitasnya bertambah dari 50 TT menjadi 100 TT sesuai dengan tuntutan masyarakat Cirebon yang semakin tinggi dan semakin sadar kesehatan.
Berdasarkan hasil Penilaian Rumah Sakit yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Jawa Barat , beberapa prestasi telah diraih RSPK diantaranya pada bulan November 1991 menjadi RS Terbaik Kedua se-Jawa Barat, tahun 1995 sebagai Juara Kedua Lomba Penampilan RS Swasta kelas C se Jawa Barat, tahun 1996 sebagai Rumah Sakit Pengelola Taman RS terbaik Kedua se Jawa Barat. Bagi kami, prestasi ini merupakan kebanggaan namun kebanggaan kami yang terbesar adalah apabila pasien-pasien kami puas dengan pelayanan kami. Pada tanggal 8 Agustus 2002, PT RSPP berganti nama menjadi PT Pertamina Bina Medika (Pertamedika) dengan 8 unit usaha layanan kesehatan berupa RS yaitu RS Pusat Pertamina dan RS Pertamina Jakarta yang berlokasi di Jakarta, RS Pertamina Balikpapan, RS Pertamina Cirebon, RS Pertamina Prabumulih, RS Pertamina Tanjung, RS Pertamina Tarakan, dan RS Pertamina Sorong. Berdasarkan memorandum Direktur Utama Pertamedika no. 0713/A00000/2004-S0 yang diberlakukan mulai tanggal 7 September 2004, RS Pertamina Klayan Cirebon berganti nama menjadi RS Pertamina Cirebon.
Artikel ini diambil dari website rumah sakit Pertamina Cirebon, Selengkapnya klik disini
Kota Cirebon memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang timur Jawa Barat sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi bagi wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan). Seiring dengan meningkatnya mobilitas penduduk, perkembangan industri, dan kesadaran masyarakat akan kesehatan, permintaan terhadap layanan medis yang komprehensif dan berkualitas terus tumbuh.
Dalam rangka merespons dinamika tersebut, rencana pengembangan atau modernisasi Rumah Sakit Pertamina Cirebon memerlukan kajian mendalam melalui Feasibility Study (FS) atau Studi Kelayakan. Studi ini menjadi fondasi bagi manajemen PT Pertamina Bina Medika IHC (Pertamedika IHC) untuk menilai kelayakan proyek dari berbagai dimensi sebelum keputusan investasi diambil.
Berikut adalah aspek-aspek utama yang dianalisis dalam Studi Kelayakan Rumah Sakit Pertamina Cirebon:
1. Analisis Pasar dan Potensi Layanan Regional (Market & Demand)
Cirebon tidak hanya melayani penduduk kota setempat, melainkan juga menjadi rujukan bagi kabupaten-kabupaten di sekitarnya. Studi kelayakan dalam aspek ini meliputi:
-
Segmentasi Pasar: Menganalisis proporsi pasien dari sektor korporasi (karyawan Pertamina Grup dan BUMN lain), pasien asuransi swasta, pasien umum, serta pengguna BPJS Kesehatan.
-
Identifikasi Kesenjangan Layanan (Service Gap Analysis): Memetakan jenis layanan spesialisasi yang masih minim di Cirebon, seperti pusat layanan jantung (cardiac center), penanganan stroke terpadu, urologi, atau pusat kemoterapi. Hal ini penting untuk menentukan diferensiasi layanan RS Pertamina Cirebon agar tetap kompetitif.
2. Analisis Teknis, Kapasitas, dan Tata Ruang
Aspek teknis menilai kelayakan fisik bangunan eksisting dan rencana pengembangannya:
-
Optimalisasi Lahan dan Fasilitas: Menganalisis apakah lahan yang tersedia cukup untuk pengembangan gedung baru, penambahan kapasitas tempat tidur, atau perluasan area parkir tanpa mengganggu operasional layanan yang sedang berjalan.
-
Kebutuhan Teknologi Medis: Menilai kelayakan investasi untuk pengadaan alat medis canggih (seperti CT-Scan berspesifikasi tinggi, MRI, atau peralatan laboratorium otomatis) berdasarkan proyeksi volume pasien yang akan menggunakannya.
-
Perencanaan Alur Pasien (Patient Flow): Merancang tata letak ruang yang efisien untuk meminimalkan waktu tunggu dan mencegah infeksi nosokomial (silang) antarruangan.
3. Analisis Regulasi dan Lingkungan (Kepatuhan Hukum)
Pembangunan dan operasional rumah sakit di kawasan perkotaan padat seperti Cirebon harus mematuhi regulasi yang ketat:
-
Klasifikasi Rumah Sakit: Menilai kelayakan persyaratan untuk mempertahankan atau meningkatkan kelas rumah sakit (misalnya dari Kelas C ke Kelas B) sesuai regulasi Kementerian Kesehatan.
-
Pengelolaan Dampak Lingkungan (AMDAL/UKL-UPL): Mengingat letak geografis Cirebon yang berada di wilayah pesisir, analisis pengelolaan limbah cair medis (IPAL) dan limbah B3 padat harus direncanakan dengan teknologi yang aman agar tidak mencemari lingkungan sekitar.
4. Analisis Keuangan dan Risiko Investasi (Financial Feasibility)
Aspek finansial menentukan keberlanjutan operasional rumah sakit dalam jangka panjang melalui perhitungan proyeksi keuangan:
-
Estimasi Biaya Investasi (CAPEX): Perhitungan detail anggaran untuk konstruksi, pengadaan alat medis, perizinan, dan sistem teknologi informasi.
-
Proyeksi Biaya Operasional (OPEX): Estimasi biaya rutin seperti gaji pegawai, pemeliharaan gedung/alat, listrik, air, dan bahan medis habis pakai.
-
Evaluasi Parameter Keuangan: Mengukur kelayakan investasi menggunakan indikator keuangan standar seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period, dan Break-Even Point (BEP). Analisis ini juga menyertakan uji sensitivitas terhadap risiko penurunan jumlah pasien atau kenaikan inflasi.
Kesimpulan
Penyusunan Feasibility Study untuk pengembangan Rumah Sakit Pertamina Cirebon merupakan langkah krusial untuk memastikan bahwa investasi yang ditanamkan memiliki arah yang jelas, terukur, dan aman secara regulasi. Melalui kajian yang sistematis, RS Pertamina Cirebon diharapkan dapat terus meningkatkan kapasitas layanannya secara efisien, sekaligus memperkuat perannya sebagai salah satu pilar layanan kesehatan rujukan di wilayah Jawa Barat bagian timur.
Punya proyek serupa?
Ceritakan jenis proyek, lokasi, dan tujuan Anda. Konsultasi awal gratis.